Di era digital yang berkembang begitu pesat, kemampuan komunikasi visual bukan lagi sekadar keterampilan tambahan, melainkan sebuah kebutuhan strategis bagi lembaga seperti Credit Union. Menyadari pentingnya hal tersebut, CU Stella Maris menggelar kegiatan sharing session internal yang berfokus pada teknik pengambilan foto dan pembuatan video edukatif serta informatif.
Kegiatan yang berlangsung pada Kamis, 11 Juni 2026 ini diselenggarakan di Aula Diklat CU Stella Maris, Siantan. Dimulai dari pukul 16.00 hingga 20.00 WIB, acara ini dihadiri oleh seluruh jajaran manajemen CU Stella Maris yang tampak antusias mengikuti setiap sesi materi hingga praktik langsung.
Kegiatan yang bermanfaat ini difasitasi oleh Bapak Koko Aruana Wiko, S.Pd., yang sehari-hari menjabat sebagai Koordinator Tempat Pelayanan (TP) Kotabaru. Dengan latar belakang pendidikan dan pengalamannya yang mumpuni, beliau membedah tuntas formula menciptakan konten visual yang tidak hanya estetis, tetapi juga mampu menyampaikan pesan secara kuat kepada anggota dan masyarakat luas.
Sebelum masuk ke dalam teknis sinematografi dan fotografi, kegiatan dibuka dengan pemaparan mengenai mengapa manajemen CU—mulai dari staf lapangan hingga jajaran pimpinan—perlu memahami dasar-dasar publikasi visual.
Sebagai lembaga yang berbasis pada kepercayaan anggota, CU Stella Maris dituntut untuk selalu transparan dan komunikatif. Setiap kegiatan pemberdayaan, pendidikan anggota, hingga pelayanan di semua TP adalah cerita berharga yang layak dibagikan. Melalui foto yang berbicara (talking photo) dan video yang menarik, nilai-nilai pemberdayaan dan nilai-nilai CU dapat tersampaikan dengan lebih humanis dan menyentuh hati semua anggota.
Pada paruh pertama sesi, Bapak Koko Aruana Wiko memaparkan materi mengenai teknik fotografi menggunakan perangkat yang tersedia, termasuk optimalisasi kamera ponsel pintar (smartphone). Menurutnya, foto yang menarik tidak selalu lahir dari kamera yang mahal, melainkan dari kejelian fotografer dalam memanfaatkan momentum, pencahayaan, dan komposisi.
Ada beberapa poin penting yang ditekankan dalam sesi fotografi ini:
- Komposisi Rule of Thirds (Aturan Sepertiga): Peserta diajarkan untuk membagi layar menjadi sembilan kotak sama besar dan menempatkan objek utama pada titik potong garis-garis tersebut agar foto terlihat lebih seimbang dan natural.
- Pencahayaan (Lighting): Memanfaatkan cahaya alami (cahaya matahari) atau memposisikan objek sedemikian rupa agar tidak membelakangi cahaya (backlight), kecuali jika ingin membuat efek siluet yang dramatis.
- Sudut Pandang (Angle): Menjelajahi berbagai sudut pengambilan gambar, seperti eye level (sejajar mata), low angle untuk memberikan kesan megah, atau high angle untuk menangkap suasana ruangan secara menyeluruh.
Pada materi kedua, fasilitator membedah teknik pembuatan video pendek yang terstruktur dan nyaman ditonton. Dalam dunia videografi, variasi ukuran gambar (frame size) sangat menentukan kenyamanan penonton dalam mencerna alur cerita.
Bapak Koko secara spesifik memaparkan tiga jenis teknik pengambilan video yang wajib dikuasai oleh peserta:
- Wide Shot (Pengambilan Gambar Luas)
Wide shot digunakan untuk membuka sebuah video atau adegan. Tujuannya adalah memberikan informasi mengenai konteks tempat, lingkungan, dan suasana di mana kegiatan tersebut berlangsung. Dalam konteks CU Stella Maris, wide shot bisa berupa keindahan gedung kantor, suasana Aula Diklat yang dipenuhi peserta, atau kondisi ruang pelayanan yang bersih dan rapi.
- Medium Shot (Pengambilan Gambar Paruh Badan)
Setelah penonton memahami latar tempat melalui wide shot, medium shot hadir untuk mendekatkan penonton dengan subjek. Biasanya mengambil objek dari pinggang hingga kepala. Teknik ini sangat efektif digunakan saat merekam interaksi, misalnya saat kasir sedang melayani anggota, atau fasilitator yang sedang berbicara di depan aula.
- Close-Up (Pengambilan Gambar Dekat)
Close-up berfungsi untuk membangun kedekatan emosional dan detail. Gambar diambil dari bagian dada atau bahu hingga atas kepala. Teknik ini digunakan untuk menangkap ekspresi wajah secara jelas seperti senyuman ramah staf atau binar mata bahagia, serta detail aktivitas penting, seperti tangan yang sedang menandatangani berkas atau menghitung uang di mesin hitung.
Untuk memastikan materi ini bukan sekadar teori saja, fasilitator memberikan tantangan kepada beberapa orang untuk langsung praktik mengambil foto dengan modelnya sesama manajemen. Setelah itu semua peserta wajib membuat video berdurasi 15 detik dan dikumpulkan untuk kemudian ditampilkan dan disaksikan bersama-sama. Bunyi riuh penuh tawa mengisi seluruh ruangan Aula Diklat karena ternyata video-video yang dibuat sangat bervariatif dan lucu.
Praktik langsung ini terbukti sangat efektif untuk memberikan pengalaman kepada semua peserta dalam membuat video dengan kamera HP masing-masing.
Sebagai penutup rangkaian sharing session yang padat dan produktif ini, semua peserta berikan tugas untuk menerapkan ilmu yang diterima dengan membuat video yang bedurasi 30-60 detik tentang CU Stella Maris, dan 3 buah foto dengan angle yang berbeda. Semuanya tentang CU Stella Maris. Tugas ini dirancang agar setiap staf mampu mempromosikan identitas dan pelayanan lembaga tempat mereka bekerja dan melayani anggota. (friyanto)

